Kamis, 25 April 2019

TUGAS KELAS FILSAFAT ISLAM

TUGAS KELAS FILSAFAT ISLAM

1. Bagi seluruh mahasiswa kelas Filsafat Islam yang saya ampuh, di mohon untuk membuat kelompok sebanyak 10 kelompok.
2. Setiap kelompok membuat makalah dengan judul dibawah ini, adapun judul setiap kelompok sesuai dengan urutan kelompok (kelompok 1 judul makalah huruf a), adapun judul makalah sebagai berikut:
a. Hukum kausalitas dalam worldview islam
b. Epistemologi ilmu dalam filsafat islam
c. Interpretasi al Ghazali atas Realitas
d. Pengetahuan menurut al Ghazali
e. Kausalitas dan Pengetahuan menurut Ibn Rusd
f. Konsepsi Tuhan dan Sembahyang menurut Muhammad Iqbal
g. Konsep Kenabian menurut Ibnu Sina
h. Epsitemologi, psikologi dan mistisme Ibnu ‘Arabi
i. Konsep Makhluq menurut Imam ar Razi (Fakhr Razi)
j. Pandangan metafisika menurut Sayyid Muhammad Naquib Al Attas
         
3. Makalah dikumpulkan dalam bentuk soft file ke email jurnalilmiah81@gmail.com
4. Waktu pengumpulan makalah yaitu pada tanggal 1 Mei 2019, maksimal pukul 24.00 WIB

TERIMA KASIH SELAMAT MENGERJAKAN, SEMOGA DIMUDAHKAN DAN DIDLANCARKAN OLEH ALLAH

M. NATSIR DAN DAKWAH MELALUI PEMERINTAHAN



M. NATSIR DAN DAKWAH MELALUI PEMERINTAHAN

Akhmad Hasan Saleh



Perjuangan pergerakan dakwah di Indonesia sangat masif dan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di dunia, sehingga memberikan gambaran pada bangsa-bangsa lain tentang Islam di Indonesia. Banyak tokoh-tokoh yang telah berjuang untuk menegakkan kalimatul haq sebagai dasar berfikir, berpolitik, berekonomi bahkan dalam pengembangan pendidikan pada masa awal kemerdekaan, salah satunya adalah Mohammad Natsir dikenal sebagai sosok yang gigih dalam memperjuangkan sekaligus mempertahankan kebenaran Islam seperti tokoh-tokoh nasional pada masa itu, yaitu H. Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Hamka dan lain-lain. M. Natsir berdiri dan berjuang bersama mereka.
M. Natsir adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang dikenal cerdas dalam pemikirannya. M. Natsir juga dikenal sebagai birokrat, politisi dan juga sebagai dai ternama. Sebagai birokrat, M. Natsir pernah menduduki dua jabatan penting di pemerintahan, yaitu sebagai menteri penerangan dalam kabinet Sjahrir dan perdana menteri pertama pada masa pemerintahan soekarno. M. Natsir sebagai politisi telah menduduki jabatan puncak partai Islam terbesar pada masanya, yaitu Masyumi dan pernah memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Sebagai dai ternama, M. Natsir pernah menduduki jabatan sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami sekaligus juga sebagai tokoh puncak Rabithah Alam islami, serta menjadi Ketua Dewan Dakwa Islamiyah Indonesia sejak tahun 1967 sampai beliau wafat tahun 1993. Seluruh jabatan yang pernah didudukinya adalah jabatan-jabatan penting dalam bidangnya.
M. Natsir yang dilahirkan di Jembatan Berukir Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera barat, pada hari jumat 17 Jumadil Akhir 1326 H, bertepatan dengan 17 Juli 1908 dari rahim seorang ibu bernama Khadijah. Ayahnya bernama Muhammad Idris Sutan Saripado, seorang pegawai rendah yang pernah menjadi juru tulis pada kantor Kontroler di Maninjau. M. Natsir mendapatkan gelar Datuk Sinaro Panjang setelah menikah dengan Nurhanar pada tanggal 20 Oktober 1934 sebagai adat Minangkabau bahwa gelar tersebut akan diberikan kepada yang berhak menerimanya setelah melangsungkan pernikahan. Dari pernikahan ini, M. Natsir dikaruniai enam orang anak, yaitu: Siti Muchlisah, Abu Hanifah, Asma Farida, Dra. Hasnah Faizah, Dra. Asyatul Asryah, dan Ir. Ahmad Fauzi. Namun disayangkan dari sekian putra-putrinya tidak ada satu pun yang mengikuti jejak perjuangan sang ayah.
M. Natsir juga mempunyai tiga orang saudara kandung yaitu Yukinan, Rubiah dan Yohanusun. Pada masa remajanya ia sudah terbiasa dengan pendidikan keagamaan dan intelektualisme. M. Natsir muda sangat tekun dalam belajar, ia melewati masa mudanya dengan penuh perjuangan berat. Disisi lain ia harus menuntut ilmu dan disisi lain ia harus mampu bertahan dalam kehidupannya yang penuh keterbatasan. Ia harus memasak nasi, mencuci pakaian, dan mencari kayu bakar dipantai. Kehidupan yang berat tersebut dilaluinya dengan bahagia. M. Natsir mengatakan bahwa keterbatasan yang dialaminya mengantarkan kesadaran akan dirinya, kesadaran bahwa rasa bahagia tidaklah terletak pada kemewahan dan keadaan serba cukup. Rasa bahagia lebih banyak timbul dari kepuasan hati yang tidak tertekan dan bebas, berani mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, tidak mengalah dengan keadaan, tidak berputus asa, dan percaya pada kekuatan yang ada dalam dirinya sendiri.
M. Natsir mengenyam pendidikan pertama di sekolah partikelir HIS Adabiah di Padang, setelah ia gagal masuk Sekolah Rendah Belanda (HIS) karena ayahnya adalah pegawai rendahan. Selanjutnya ia dipindahkan oleh ayahnya ke Solok untuk mendapatkan pendidikan. Di Solok inilah pertama kali M. Natsir belajar bahasa Arab dan mempelajari hukum fiqh yang diajarkan oleh Tuanku Mudo Amin pada sore hari di Madrasah Diniyah dan mengaji al Qur’an pada malam harinya. Pada tahun 1920, ia diajak kakaknya, Rubiah untuk pindah ke Padang. Tahun 1923, ia pun menamatkan pendidikan di HIS. M. Natsir juga aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler seperti MULO. Ia pun pernah menjadi anggota Pandu Nastionale Islamietische Pavinderij sejenis pramuka. Ia melanjutkan pendidikan formalnya ke Algememe Midlebare School (AMS) Afdelling A di Bandung. Di kota ini M.Natsir bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Ahmad Hassan, pendiri Persis, yang kemudian hari mempengaruhi pemikiran M. Natsir sehingga menjadi militan. Sejak itu M.Natsir mulai tertarik pada pergerakan Islam dan belajar politik di perkumpulan JIB, sebuah organisasi pemuda Islam yang anggotanya adalah pelajar-pelajar yang bersekolah di sekolah Belanda. Organisasi ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran intelektual Haji Agus Salim. Di usia yang masih belia, ia bisa berkumpul dengan tokoh-tokoh nasional, yaitu Hatta, Prawoto Mangunsasmita, Yusuf Wibisono, Tjokroaminoto, dan Moh. Roem. Pada tahun 1928, dengan kecerdasannya yang ditunjukkan dalam diskusi-diskusi mengantarkan pada posisi ketua JIB di Bandung hingga tahun 1932, sehingga kemampuan politiknya makin terasah. Kegiatan yang digelutinya telah membawa perubahan besar pada sosok M. Natsir, hingga meraih gelar Meester in de Rechten (MR). M. Natsir dengan modal inteletualisme dan panggilan jiwanya mengajarkan agama yang pada masa itu masih sangat minim. Semangat kesadaran melihat keadaan sekolah umum yang tidak mengajarkan agama, kemudian M. Natsir mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (Pendis), suatu bentuk pendidikan modern dengan kurikulum terintegrasi antara pendidikan umum dengan pendidikan keagamaan ala pesantren. Pendis dibawah kepemimpinan beliau selama sepuluh tahun sejak tahun 1932 mengalami perkembangan dan kemajuan dibeberapa daerah di Jawa Barat dan Jakarta.
M.Natsir mulai sungguh-sungguh bergelut di dunia politik diawali dengan mendaftarkan diri menjadi anggota Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung pada tahun 1938. Karirnya semakin meningkat sejak bekerja di pemerintahan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kodya Bandung pada tahun 1942 sampai 1945 masa kemerdekaan sekaligus merangkap sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Dalam perjalanannya, M. Natsir di untungkan dengan adanya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang dibentuk pada masa pemerintahan jepang, karena pada saat itu jepang merasa perlu untuk merangkul Islam, sehingga terbentuklah MIAI sebagai badan federasi organisasi sosial dan organisasi politik Islam yang kemudian menjadi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada tanggal 7 November 1945.
Karir politik M. Natsir semakin melesat pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sebagai salah seorang politisi dan pemimpin negara. Herbert Feith mengatakan bahwa “Natsir adalah salah seorang menteri dan perdana menteri yang terkenal sebagai administrator berbakat yang pernah berkuasa sesudah Indonesia merdeka.” Kecerdasan M. Natsir menjadikan kawan dan lawan tetap menghormatinya dan selalu diberi kesempatan untuk menduduki jabatan tertentu. M. Natsir pernah dipercaya untuk menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika Sutan Sajrir memerlukan dukungan Islam, M.Natsir ditawari menjadi menteri penerangan. Bung Karno pernah menjadi lawan polemiknya pada tahun 1930, sama sekali tidak keberatan atas gagasan Sutan Sajrir. Wakil presiden Moh. Hatta menjadi kesaksian bahwa Bung Karno tidak mau menandatangani sesuatu keterangan pemerintah, kecuali M.Natsir yang menyusunnya. Pernah suatu ketika M. Natsir tidak lagi mendapatkan kedudukan dipemerintahan Ode Baru, karena ketegasan dan pemikirannya tentang perjuangan penegakan syariat islam sebagai dasar negara. Namun, Moh. Natsir tidak berhenti dalam perjuangannya, ia kemudian mendirikan Yayasan bersama para ulama’ di Jakarta yang dinamakan dengan Yayasn Dewan Dakwah Indonesia (DDII). Sikap kritis dan korektif M. Natsir pada Pemerintahan Orde Baru menjadikan hubungan kurang harmonis. Kritikan M.Natsir menunjuk langsung pada persoalan-persoalan mendasar tetap menjadi aktivitas rutinnya, sehingga ia pun dicekal untuk melakukan perjalanan ke luar negeri sampai akhir hayatnya.
Dalam perjuangan mempersatukan bangsa M.Natsir memberikan jasa besar soal terbentuknya NKRI. Tepatnya pada 3 April 1950, ia sebagai anggota parlemen mengajukan mosi dalam sidang RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi yang diajukannya kemudian dikenal dengan “Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunta kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. M. Natsir berungkali mendapatkan kepercayaan dan kesempatan menduduki beberapa jabatan disejumlah kabinet.
M. Natsir selain berjuang dengan politik, ia pun berjuang melalui karya ilmiah dengan berbagai karya yang ditulisnya, hingga menghasilkan 35 judul buku dan ratusan artikel lepas dalam berbagai kesempatan. Namun yang sangat kita ingat adalah kumpulan artikel-artikel beliau yang terkumpul dalam buku Kapita Selekta I dan II. M. Natsir adalah sosok yang haus ilmu dan tidak berhenti belajar dengan membaca buku, hal ini yang mendorongnya untuk mejadi anggota perpustakaan dengan gaji tiga rupiah perbulan. Sehingga ia pun sering mendapatkan kiriman buku-buku baru dari perpustakaan.
M. Natsir adalah sosok yang memegang teguh perjuangan Islam bersama ulama’. Dalam buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah karya M. Anwar Djaelani menjelaskan bahwa pidato-pidato M. Natsir pada sidang pleno konstituante sangat brilian dengan menyampaikan hujjah-hujjah mengenai Islam sebagai Dasar Negara. M. Natsir mengatakan bahwa Islam sebagai agama sepantasnya menjadi pegangan dalam hidup bermasyarakat dan bernegera. Maka perlu dan tidak boleh tidak, harus ada suatu kekuatan dalam pergaulan hidup, berupa kekuasaan dalam negara. Artinya M. Natsir mengingatkan bahwa kekuasaan tertinggi ada pada Allah dan RasulNya, negara harus menjadikan al Qur’an dan Sunnah sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan. Pemikiran M.Natsir tentang tujuan sebuah negara adalah kesempurnaan berlakunya Undang-undang ilahi, baik yang berkenaan dengan peri kemanusiaan sendiri sebagai individu, ataupun sebegai kelompok masyarakat baik yang berhubungan dengan kehidupan dunia yang fana ataupun yang berhubungan dengan kehidupan kela di alam baka. Sekalipun M. Natsir berjuang dalam penegakan syariat Islam, ia pun tetap tunduk terhadap dasar negara yang telah ditetap bersama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Sebagaimana yang pernah ditulis oleh Adian Husaini dalam bukunya Pancasila Bukan Untuk menindas Hak Konstitusional Umat Islam, bahwa M. Natsir mengatakan bahwa “Setia kepada Proklamasi bukan berarti bahwa harus menindas dan menahan perkembangan dan terciptanya cita-cita dan akidah Islam dalam kehidupan bangsa dan negara kita”. M. Natsir sebagai sosok pejuang selalu menyampaikan ide-idenya dengan metode dakwah yang moderat dan berhikmah.
Dengan pemikiran itulah, M. Natsir mendukung tegas terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa Islam di Asia dan di Afrika. Selain itu juga berusaha untuk menghimpun kerjasama antar negera-negara muslim yang baru merdeka, demi tegaknya peradaban Islam. Maka tidak berlebihan jika M. Natsir disebut sebagai salah seorang tokoh besar dunia Islam abad ini. Deliar Noer menyebutnya sebagai Inteletual-ulama’ atau ulama’-intelektual. Sebagai Intelektual ia terus belajar tanpa henti dan sebagai ulama’ ia terus mengaji dan mengkaji tafsir al Qur’an. Ada kesaksian bahwa hingga menjelang akhir hayatnya, M. Natsir masih terus mengkaji tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, Yafsir ibn Katsir, dan tafsir al furqon karya A. Hassan sebagai guru pertama dalam perjuangannya. M. Natsir berjuang dalam dakwah tak pernah surut diusianya yang senja, sehingga Allah memanggilnya pada tanggal 14 sya’ban 1413 H bertepatan tanggal 6 Februari 1993, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, beliau tutup usia 85 tahun. Berita wafatnya menjadi berita utama diberbagai media cetak dan elektronik. Dalam artikel Zaini Ujang yang berjudul “Pak M Natsir Ibarat Mutiara Alam Melayu” yang diterbitkan dalam Utusan Malaysia diungkapkan bahwa Mantan Perdana Menteri Jepang yang diwakili oleh Nakadjima menyampaikan ucapan belasungkawa atas kepergian M. Natsir dengan ungkapan, “Berita wafatnya M.Natsir terasa lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hirosima”. Artinya begitu penting sosok M.natsir bagi bangsa ini dan bangsa-bangsa di dunia.
Dalam perjuangan menegakkan kalimatul haq itulah M.Natsir mendapatkan apresiasi luar biasa dari Prof. Dr. Hamka, sehingga Hamka menulis sebuah puisi berjudul “Kepada Saudaraku M. Natsir”.
Meskipun bersilang keris dileher/ Berkilat Pedang dihadapan matamu/ Namun yang benar kau sebut juga benar/ Cita Muhammad biarlah lahir/ Bongkar apinya sampai bertemu/ Hidangkan diatas persada nusa/ jibril berdiri sebelah kananmu/ Mikail berdiri sebelah kiri/ Lindungan Ilahi memberimu tenaga/ Suka dan duka kita hadapi/ Suaramu wahai Natsir, suara kaummu/ Kemana lahi, Natsir kemana kita lagi/ Ini berjuta kawan sepaham/ Hidup dan mati bersama-sama/ Untuk menuntut Ridho Ilahi/ Dan aku pun masukkan/ Dalam daftarmu....

Pada bulan November 2008, M.Natsir mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Indonesia kepada M.Natsir (almarhum). Gelar itu diberikan sebagai penghargaan tertinggi pemerintah terhadap jasa-jasanya yang luar biasa kepada negeri ini. M.Natsir adalah sosok pemimpin yang harus ditiru oleh generasi saat ini, karena ia tak pernah berhenti memikirkan nasib umat dan bangsa serta memperjuangkan hingga akhir hayatnya.